PESULAP DI BALIK DESAIN INOVATIF APPLE
Oleh Peter Burrows, Businessweek

Musim semi lalu, sekumpulan desainer ikut memenuhi aula konferensi bertema “Radical Craft” yang diadakan Art Center of Design di Pasadena, California. Perancang mode Isaac Mizrahi menuturkan cerita inspiratif tentang bagaimana ia menggapai ketenaran. Pelopor kecerdasan buatan Danny Hillis memamerkan layar komputer topografis yang dapat me-render apa saja—termasuk pegunungan Himalaya—dalam tiga dimensi. Theo Jansen, penemu asal Belanda, membawa “binatang pantai” berukuran sebuah VW dan terbuat dari pipa-pipa plastik. Makhluk itu “berjalan” menyeberang panggung, mirip kepiting antarbintang dalam film-film George Lucas.

Sayangnya, bintang utama dari pertunjukan tersebut justru tampil kurang mengesankan. Ia berjalan perlahan ke atas panggung. Kepalanya nyaris plontos. Mengenakan kaus berwarna gelap, Jonathan Ive, Wakil Presiden Senior Apple yang mengurusi masalah desain, mirip lulusan baru universitas yang tersesat dalam perjalanan ke kedai Starbucks. Orang Inggris berumur 39 tahun itu duduk membungkuk di kursinya dan, dengan suara pelan, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Chee Pearlman, editor peraih berbagai penghargaan yang malam itu bertindak sebagai pembawa acara.

Di acara yang dihadiri banyak orang tersebut, Ive bersikukuh menolak bercerita tentang cara mendesainnya atau bertutur mengenai bagaimana rasanya bekerja untuk atasan yang perfeksionis: Steve Jobs. Orang yang—setelah beberapa kali pindah pekerjaan—paling berperan dalam mewujudukan kemampuan Apple yang mengagumkan dalam memesona dan menggairahkan publik melalui produk-produk terkenalnya itu malah memilih bicara tentang proses yang ia sebut sebagai “keahlian mendesain”.

Dengan bersemangat, Ive menggambarkan tim kecil yang dipimpinnya dan menceritakan bagaimana mereka bekerja sama. Ia memperbincangkan soal pentingnya memusatkan perhatian hanya pada hal-hal pentng dan membatasi jumlah proyek. Dirinya juga bicara soal pentingnya memiliki pengertian yang mendalam tentang bagaimana sebuah produk dibuat: bahan, peralatan, dan tujuannya. Di acara ini, ia memfokuskan ceramahnya pada bagaimana kita harus teliti dalam bekerja.

Sungguh tak ada pembahasan yang benar-benar menarik, terutama bila kita mengingat ia seorang perancang terkemuka. Tak ada hal baru dan sedikit perincian yang jelas tentang apa pun yang dibahasnya. Sudah pasti, Ive memang enggan menjadi selebriti. Selain itu, ia pastinya terbebani keharusan tutup mulut tentang semua hal yang terkait dengan Apple sebagaimana diperintahkan Jobs. Bahkan, Ive tak bersedia bercerita untuk artikel ini. Banyak pihak lain juga bungkam, termasuk Royal Society of the Arts dari Inggris yang membantu Ive mendapatkan kesempatannya untuk sukses sekitar 20 tahun lalu. Semua takut akan amarah Apple.

Memang, Apple memiliki cara sendiri untuk bicara dengan dunia luar. Mereka umumnya memakai momen peluncuran produk baru, seperti acara jumpa pers yang diiklankan dengan sangat baik pada 12 September silam.

Meski demikian, penampilan Ive di atas panggung sudah cukup untuk membernarkan apa yang dikatakan banyak orang yang dekat dengan perusahaan tersebut selama ini: lelaki itu adalah rahasia di balik sukses Apple. Sementara Jobs menentukan arah dan memberi inspirasi, Ive mencetak kreativitas khas Apple. Lewat komponen-komponen yang dibutuhkan, timnya menciptakan benda-benda yang indah. Sukses inovasi Apple amat terkait dengan ikatan emas antara kepala perancang itu dan atasannya yang sangat karismatik. “Saya pikir, dalam diri Ive, Steve Jobs menemukan seseorang yang mengetahui cara menuntaskan atau bahkan melebihi visinya secara terus-menerus,” kata Pearlman.

Sejak awal kolaborasi mereka, sekitar sembilan tahun lalu, pertunjukan “Jobs & Ive” telah menghasilkan aliran produk yang khas, mulai dari iMac warna-warni yang telah mengubah konsep PC rumahan pada akhir 1990-an hingga iPod Nano yang mungil itu. Dalam kurun waktu itu, Apple berhasil menciptakan dan mempertahankan genggaman penuh atas pasar musik digital. Para nalis mengatakan perusahaan tersebut juga akan memperoleh peningkatan terbesar dalam pangsa pasar PC.

Kenaikan nilai saham sebesar 232% dalam 10 tahun terakhir melebihi semua indeks pasar teknologi yang ada. Apple telah menempatkan desain yang bertumpu pada pengalaan mengesankan konsumen pada peta dunia. Mereka tak hanya mengusung kreativitas sebagai pemenang tapi juga berhasil meraup jutaan dolar dan merevolusi industri. “Sumbangan besar Apple adalah menunjukkan Anda bisa menjadi miliarder dengan menjual emosi. Desain bisa menjadi model bisnis yang sah,” kata Gadi Amit, pendiri NewDealDesign, sebuah butik desain di San Franscisco.

Tentunya, tak perlu diragukan bahwa Jobs sendiri merupakan senjata paling unik Apple dalam hal inovasi. Selain bagai bintang rock yang memainkan paduan nada untuk para penggemar yang memuja-muja Apple, lelaki ini juga menunjukkan komitmen tinggi pada kesempurnaan seperti pembuat jam tangan otomatik dari Swiss. Inilah orang pertama yang dengan tegas meminta pengiriman marmer berkualitas dari Italia untuk gerai ritel pertama Apple di Manhattan (New York)—untuk mampir dulu di Cupertino (California) agar ia dapat memeriksa barik-bariknya.

Dan, sementara perancang di tempat lain harus berjuang menghadapi para pemangkas anggaran, di Apple semua tahu bahwa umur pekerjaan mereka bergantung pada kemampuan menyesuaikan diri dengan standar tinggi yang diterapkan Jobs. Menurut sebuah cerita—kemungkinan tidak benar—Jobs pernah meminta seorang perancang untuk sebuah Mac baru membuat desain tanpa satu sekrup pun terlihat. Ketika perancang tersebut datang dengan prototipe yang masih memiliki satu sekrup yang tersembunyi di bawah ganggang, Jobs memecatnya. “Apple adalah perusahaan paling cerdas dalam hal desain. Semua itu karena Steve Jobs,” kata Ray Riley, mantan perancang Apple yang sekarang mengepalai Divisi Inovasi Tingkat Lanjut di Nike.

Ive mengatakan ia dan atasannya berbicara setidaknya satu kali dalam sehari. Kehidupan mereka memiliki banyak kesamaan. Walau sangat tenar dan kaya, keduanya berhasil menjaga privasi. Ive tinggal bersama istrinya—seorang sejarawan yang ia kenal sejak kecil—dan anak kembarnya yang masih mudah di sebuah rumah yang “tak ada yang bisa dipamerkan”, kata Clive Grinyer, rekan bisnis Ive yang pertama.

Jobs, dengan segala kelihaian promosinya, memiliki kehidupan yang secara realatif juga tenang. Ia tidak memiliki rumah berlibur dan jarang menghadiri acara-acara di Silicon Valley. Sepatu karet, kaus oblong atau kaus berleher tinggi rancangan Issey Miyake yang ia kenakan bukan bertujuan membuat efek dramatis. Ia memang suka gaya informal. Begitu pula Ive dan anggota-anggota tim desainnya.

Perbedaan mereka, Jobs adalah pengawas umum atas desain Apple, sedangkan Ive merupakan pemimpin individual atas anggota tim desainnya yang sangat berbakat. “Apple adalah sebuah kultus. Tim desain mereka adalah versi yang lebih hebat dari sebuah kultus,” tulis Riley. Sebenarnya, mereka bukan kultus yang besar—tim itu hanya terdiri atas kurang lebih 12 orang. Namun, mereka bekerja pada tingkatan yang sangat tinggi, baik secara individu maupun sebagai tim. Ive pernah mengatakan banyak produk Apple dipikirkan sambil makan pizza di dapur kecil studio desain mereka.

Tim tersebut telah bekerja dalam kenyamanan ideal selama beberapa tahun. Beberapa perancang telah bergabung dengan perusahaan itu jauh sebelum Ive datang pada 1992. Mereka jarang menghadiri acara-acara industri atau upacara-upacara penghargaan. Tampaknya, mereka tak membutuhkan pengakuan dari orang luar karena memang tidak ada orang yang lebih berkuasa di bidang mutu desain dibanding diri mereka sendiri. Selain itu, terlalu banyak berbagi informasi berisiko membantu perusahaan lain meningkatkan persaingan.

Secara pribadi, mereka juga mencerminkan jiwa dari rancangan produk Apple—biasanya elok, elite, dan cenderung bergaya Eropa. Tim ini, yang terbentuk dari 30-40 orang, memiliki bakat internasional yang nyata. Para anggotanya tak hanya berasal dari Britania Raya seperti Ive. Ada Danny Coster dari Selandia Baru, Daniele De Iuliis asal Italia, dan Rico Zorkendorfer yang asli Jerman. “Ini merupakan persahabatan murni. Semua punya tujuan sama. Ego tidak dilibatkan,” kata perancang mode asal Inggris Paul Smith. Lelaki itu telah menjadi sahabat Ive sejak tahun 1990-an, ketika ia diberi sebuah iMac baru. “Mereka sering makan bersama dan melakukan banyak perjalanan. Mereka bisa mengubah benda kuno tidak menarik bernama komputer menjadi potongan seni pahatan yang Anda inginkan meskipun Anda tidak membutuhkannya.”

Sebagian besar anggota tim Ive tinggal di San Franscisco. Tersiar kabar angin bahwa gaji awal untuk anggota kelompok ini adalah $200,000 per tahun, kurang lebih 50% di atas rata-rata gaji di industri tersebut. Mereka bekerja sama di sebuah studio terbuka raksasa dengan hanya sedikit ruang pribadi tapi dengan penuh privasi. Kebanyakan pegawai Apple dilarang masuk ke situ karena ditakutkan mereka dapat mencuri pandang terhadap beberapa produk terbaru. Sebuah sound system raksasa memompa musik ke seisi ruangan. Ive membelanjakan anggaran yang dimilikinya untuk peralatan pembuat prototipe, bukan untuk merekrut banyak pegawai.

Proses perancangan di sana berkisar pada pengulangan yang intensif. Mereka membuat dan membuat ulang model-model untuk membayangkan konsep-konsep baru. “Salah satu sifat tim ini, saya pikir, adalah rasa ingin terus mencari kesalahan diri,” kata Ive di acara Radical Craft. “Ada sifat ingin tahu, perasaan hendak menjelajah. Bila terlihat kesalahan, muncul gairah sebab kita bisa menemukan sesuatu yang baru.”

Tim Ive di Apple bukanlah kelompok perancang kreatif yang suka memisahkan diri sebagaimana biasanya terjadi di sebagian besar perusahaan lain. Mereka bekerja secara dekat dan mendalam dengan para insinyur, pemasar, dan bahkan pabrik-pabrik kontraktor di Asia yang membuat produk mereka.

Mereka tak sekadar menjadi desainer yang simpel. Mereka memimpin para pembaru lain dalam penggunaan bahan-bahan anyar untuk proses produksi. Kelompok desainer ini berhasil menemukan cara melekatkan lapisan plastik bening di atas kotak iPod yang berwarna putih atau hitam. Tambahan tersebut memberi kedalaman tekstur yang hebat sekali. Meski begitu, bagian produksi tetap mampu membuat setiap unit iPod dalam hitungan detik. “Apple melakukan pembaruan dngan cara-cara yang besar ataupun kecil. Jika ada yang salah, mereka akan melakukan pembaruan lagi,” kata Helmut Esslinger yang merancang komputer-komputer Apple terdahulu untuk Jobs. “[Apple] merupakan satu-satunya perusahaan teknologi yang melakukan ini.”

Apa arti semua itu bagi perusahaan lain yang kini berusaha mengangkat karya desain mereka sendiri; seperti Dell, Hewlett-Packar (HP), dan Microsoft? Mereka memiliki alasan untuk berharap. Selama Apple hanya fokus pada sedikit produk dan sangat bergantung pada sedikit orang, pasar yang dapat dimasuki perusahaan ini tentunya terbatas. “Apple tidak memiliki model yang menjauhkannya dari pesang,” ujar Kepala Desainer HP Sam Lucente. Dan, di samping semua terobosan baru yang muncul pada presentasi pada 12 September silam, penggetar visual Apple—yakni kotak berwarna putih—sekarang telah berumum lima tahun dan mulai umum.

Namun, sebagian besar perusahaan tidak memilliki fokus, keahlian, ataupun selera risiko untuk membangun produk massal yang seakan dibuat butik mahal di New York atau London. Pada saat perusahaan-perusahaan komputer lain memfokuskan diri menghemat uang, Apple justru menyempurnakan pekerjaan desain mereka. Kenyataan bahwa para pesaing kini juga bicara soal desain sama sekali tak menunjukkan mereka sedang mendekati Apple. Yang menjadi pertanyaan, seberapa jauh mereka harus melangkah?

Sejak kecil, Ive sudah menunjukkan memiliki ide sendiri. Lahir di lingkungan kelas menengah di London, ia sudah disuguhi misteri tentang bagaimana segala sesuatu dibuat saat berumur belasan tahun. Segera setelah Ive mendaftar pada Program Desain di Newcastle Polytechnic pada 1985, bakat dan ambisinya sudah terlihat jelas.